Sabtu, 17 Agustus 2019

Teruntukmu yang pernah menjadi bagian terdalam


Kali ini aku benar-benar tak ingin mengetahui apa saja yang kau lakukan. Aku tak ingin peduli terhadap apapun yang sedang kau kerjakan. Entahlah, mengapa luka ini begitu menyakitkan. mungkin, ini salahku yang membiarkan hatimu sepi sendiri sehingga orang lain dapat dengan mudahnya menjajaki. Tapi dengan cara ini aku mengerti siapa yang paling mencintai, jika kau benar mencintaiku kau tak akan dengan mudah untuk luluh walaupun diluar sana banyak yang lebih perhatian kepadamu atau bahkan sampai menggodamu.  Yang harus selalu kau tau aku selalu berusaha menjaga hatiku untukmu walau banyak yang mendekatiku. Aku tak peduli terhadap mereka, karena yang terpenting untukku selalu ada dirimu dihatiku yang harus ku jaga setiap waktu.

Sudah berapa lama aku menunggu hadirmu dihadapku. Ingin sekali rasanya ku mendekat, bahkan mendekapmu dengan erat, menceritakan hal-hal yang menjadikan luka dihati. Tapi aku tak berani, sekecil itu nyaliku, saat dihadapkan pada kenyataan emosi yang ada pada dirimu karena kesalahanku.

Selain itu ada ego yang meracuniku, ketika aku ingin memberanikan diri untuk meminta maaf padamu, selalu ku temukan hal-hal yang menyakitiku. Ku temukan ada seseorang yang selalu chatting bersamamu, seseorang yang kau ajak pergi bersama, bahkan pernah ada yang bersandar di bahumu, bahu tempatku bersandar disaat aku merasa pilu dan membutuhkanmu. MENYAKITKAN BUKAN ! mana pernah aku melakukan itu? Sekalipun tak pernah terlintas dalam benakku. Mana mungkin aku harus memarahimu sedangkan kau masih emosi kepadaku?
Aku hanya bisa terdiam, karena dengan tetap diam, tak akan ada perdebatan, aku tak akan merasakan kehilangan. Setidaknya itu yang ku inginkan. Tapi menurutmu, diam adalah bukti seseorang sudah tak peduli, sampai akhirnya kau sendiri yang berasumsi dan memilih untuk pergi.
Hanya tangis yang ada pada diri ini. Sesekali berbicara pada diri sendiri, jika saja saat itu ku beranikan diri menemuimu dan menjelaskan yang terjadi, mungkin saat ini kau masih menjadi milikku.

Kini, mungkin saat yang tepat aku harus belajar melepaskanmu, bukan karena aku tidak lagi mencintaimu, bukan juga karena sayangku sudah habis di dalam hati. Namun aku sadar mencintaimu sendirian bukanlah cinta yang wajar. Dan akhirnya cinta kita berada pada garis “pernah” pernah saling memiliki pernah bahagia dan pernah terluka !!
Bagiku mencintaimu adalah pekerjaan yang menyenangkan, walaupun terkadang memang menyakitkan. Tapi aku percaya saat mencintai, kita hanya perlu memberi hati, tanpa perlu berharap lebih dari apa yang kita beri. Namun tak mengapa, karena terkadang begitulah mencintai sesungguhnya.

Kau tahu ?
Kau adalah laki-laki yang menjadi alasan kenapa aku tidak mencintai laki-laki lain.
Jika kini kau melihatku ragu. Sesungguhnya bukan begitu kenyataannya. Aku hanya ingin menjaga diri agar kita sama-sama tidak terlalu luka jika hal buruk menimpa.
Bukan aku tidak cinta, kamu hanya perlu memahami hal buruk di masa lalu bisa saja menyiksakan semacam trauma.

Terima kasih, karena setidaknya kau pernah datang memberikan kebahagiaan dihari-hariku, Menuruti semua kemauanku, menenangkan ku dalam pelukan hangatmu. Kini, biarlah itu menjadi kisah kita, kisah indah yang terukir dan terkenang dalam jiwa. Mungkin juga tak pernah bisa di lupa, walaupun terlalu dalam menyisakan luka. Tapi tenanglah, Tuhan selalu punya cara, dan aku percaya kita akan tetap bahagia, meskipun sudah tak mungkin lagi bersama.


0 komentar:

Posting Komentar